Perhatikan Langkah Merawat Rantai Motor

Cuek dan mengabaikan perawatan setiap bagian pada tunggangan sehari-hari, bukan hal yang tepat. Pasalnya semuanya komponen sepeda motor punya peran penting, seperti salah satunya rantai.

Namun, berbicara perawatan, juga tidak sembarangan dilakukan. Jika nekat dan tanpa rekomendasi yang benar, justru akan memperparah kondisinya, bukan malah membuatnya semakin awet. Agar tidak tersesat mari simak masukan dari Sriyono, Technical Service Division Astra Honda Motor (AHM).

Pertama, jangan pernah melumasi rantai dengan oli bekas. “Karena kita tidak pernah tahu ada partikel apa yang terkandung di dalam oli bekas tersebut. Bisa saja ada serbuk-serbuk bekas yang berasal dari dalam mesin, yang bisa semakin merusak rantai juga komponen yang berhubungan dengan rantai,” ujar Sriyono kepada KompasOtomotif, Jumat (18/11/2016).

Kedua, jika ingin melumasi rantai, pergunakan oli baru dengan tingkat kekentalan atau SAE 80-90.

Ketiga, bersihkan ratai terlebih dahulu sebelum melakukan pelumasan. “Janga lupa untuk membersihkannya terlebih dahulu. Cukup gunakan detergen untuk menghilangkan kotoran. Jika langsung dilumasi tanpa dibersikan, maka kotoran akan semakin menempel dan merusak rantai,” ujar Sriyono.

Keempat, lakukan pembersihan dan perawatan rantai tersebut secara berkala. “Terkait dengan waktunya, disesuaikan dengan wilayah dan musim. Jika daerahnya berdebu mungkin akan lebih sering dari dibanding dengan yang tidak,” ucap Sriyono.

Ducati Tetap Pakai Sayap di Sesi Tes

Pengujian perdana untuk tunggangan musim MotoGP 2017 rampung dilakuan, 15-16 November 2016 di Valencia. Di tengah perbincangan mengenai siapa yang tercepat, terselip satu pertanyaan kecil atas tim Ducati.

Mereka masih mempergunakan winglet atau sayap tambahan pada fairing sepeda motor. Sementara jika melihat Honda dan Yamaha, keduanya tidak menyematkan tambahan komponen aerodinamika tersebut. Pasalnya tahun depan, winglet sudah dilarang untuk digunakan.

Cal Crutchlow pebalap tim LCR Honda, komentari apa yang dilakukan Ducati, mengutip Crash, Sabtu (19/11/2016) . Dirinya mengatakan, mungkin ada motif lain dari yang dilakukan Ducati, pasalnya tahun depan sudah tidak lagi boleh gunakan winglet.

“Mungkin saja mereka mempertahankan winglet untuk beberapa alasan. Mereka juga ingin menggunakannya tahun depan. Atau bisa juga ingin membangun fairing, dengan desain yang dianggap bisa membuat tunggangan seperti menggunakan winglet. Namun bagaimanapun, saya tahu cara mereka bekerja, dan mereka tetap teman baik, dan mereka sangat pintar,” ujar Crutchlow.

Baca juga : Resmi, Tim MotoGP Dilarang Pakai “Winglet”

Ducati sendiri belum mengeluarkan pernyataan, mengenai penggunaan winglet saat pengujian di Valencia.

Pendapat Yamaha

Selama uji coba di Valencia, Herve Poncharal, bos Monster Yamaha Tech 3, mengatakan, kalau timnya dan teknisi lain mengakui perubahan yang signifikan, saat winglet tidak digunakan. Di mana winglet bisa membantu bagian depan sepeda motor.

“Para insinyur dari masing-masing pabrik telah memeriksa sepeda motor mereka, dan jelas sayap sangat membantu bagian depan. Ini bukan hanya dilihat pada data tetapi juga komentar dari para pebalap,” ujar Poncharal.

Perawatan Mobil, Berdasarkan Kilometer atau Waktu?

Melakukan servis secara berkala, sudah jadi agenda wajib para pemilik mobil. Sulit rasanya ditinggalkan, karena bakal menyangkut performa dan bahkan keawetan dari kendaraaan itu sendiri.

Namun, apa dasar yang tepat, menentukan kapan mobil harus dibawa ke bengkel untuk di servis rutin atau belum? Pasalnya saat ini ada dua parameter, berdasarkan waktu atau jarak tempuh (kilometer) dari kendaraan?

Iwan Abdurrahman, Technical service Division Toyota Astra Motor mengatakan, yang lebih disarankan yaitu berdasarkan waktu daripada kilometer. Karena bahan kimia di beberapa komponen akan semakin turun performanya karena waktu.

“Disaran lebih kepada patokan waktu. Sebab beberapa chemical akan “menua”, walaupun mobil tidak dijalankan oleh si pemiliknya,” ujar Iwan kepada KompasOtomotif, Jumat (18/11/2016).

Iwan melanjutkan, pertimbangan waktu juga terkait dengan kondisi macet yang kerap dialami mobil. Di mana mesin mobil hidup, tapi kilometer tidak bertambah, dan saat itu oli tetap bekerja di dalam mesin.

“Selain penggantian oli, di dalam perawatan rutin juga dilakukan pemeriksaan terhadap komponen lain seperti rem, ban, aki dan lainnya. Jika berdasarka waktu disarankan enam bulan sekali, jika tetap berdasarkan jarak tempuh di setiap kelipatan 10.000 km,” ucap Iwan.

Berikut beberapa bagian yang diperiksa saat melakukan perawatan rutin.

a. Oli mesin dan filternya

b. Saringan udara dan saringan AC yang ada di dalam kabin

c. Busi

d. Oli transmisi dan gardan

e. Minyak rem

f. Cairan pendingin mesin

g. Jumlah air aki

h. Minyak power steering

Ini Hasil Angka Uji Irit Pertalite

Tantangan buat komunitas mengalahkan rekor irit di acara kerja sama antara Pertamina dengan Tabloid Otomotif, sebagai bagian dari Grup Of Magazine Kompas Gramedia telah usai, Sabtu (19/11/2016). Kesimpulannya, bahan bakar minyak (BBM) Pertalite bisa bikin motor lebih irit walau tidak selalu begitu.

Sepekan sebelum acara ini digelar, tim Otomotif sudah mencari lebih dulu seberapa irit Honda BeAT, Honda Supra X135 FI, Yamaha NMAX, dan Yamaha V-Ixion, menggunakan Pertalite. Rute yang digunakan sejauh sekitar 30 km di Jakarta.

 

Komunitas yang ditantang yakni empat orang perwakilan dari Honda Beat Injeksi ‎Jakarta (HBIJ), Club Honda Supra Depok (CHSD), Jakarta Max Owners (JMO), dan Yamaha Music Vixion Club (YMVC). Mereka memakai jalur pengetesan yang sama dengan tim Otomotif, tetapi menggunakan motornya masing-masing.
Febri Ardani/KompasOtomotif
Bahan bakar minyak baru dari Pertamina, Pertalite.
Hasil terbaik dari komunitas, Ezha HBIJ (Honda BeAT) 72,92 kpl, Agung CHSD (Honda Supra X125 FI): 77,14 kpl, Sunasi JMO (Yamaha NMAX) 50,00 kpl, dan Jahuri JMVC (Yamaha V-Ixion) 55,00 kpl. Dua komunitas dari kubu Honda bisa mendapat tingkat efisiensi lebih baik dari tim Otomotif.
Sunasi JMO
“Rute yang dilalui cukup lancar ya, jadi kecepatan motor pun bisa dipacu sampai 50-60 km/jam. Kalau untuk bahan bakar Pertalite, karena saya baru pertama kali menggunakan, jadinya belum tahu performanya secara keseluruhan. Tapi bahan bakar ini cukup irit kok. Buktinya saya bisa melaju lebih jauh.”

CHSD Agung
“Saya senang bisa menjadi yang paling irit di antara teman teman CHSD. Apalagi, Pertalite juga memberikan performa cukup baik pada tunggangan saya. Kalau ingin kendaraan irit itu gampang. Intinya jangan sering main betot gas. Etika berkendara juga perlu dicermati. Jangan sruntulan di jalan raya.”

Billy Riestianto, Editor in chief Otomotif
“Para bikers yang ikut dapat membuktikan dan merasakan manfaat Pertalite. Diklaim sebagai bahan bakar RON 90 yang dapat menempuh jarak lebih jauh. Sebagai patokan dan gimmick dapat menggunakan data hasil konsumsi test ride OTOMOTIF. Tes ini terhadap motor produksi masal yang dijual di Indonesia dalam kondisi berkendara normal sehari-hari.”

Singapura Tak Lagi Gelar Formula 1?

Presiden Formula One (F1) Management, Bernie Ecclestone, menyatakan, Singapura tidak lagi ingin menyelenggarakan Grand Prix Formula 1. Salah satu dasarnya adalah, belum diperpanjangnya kontrak balap oleh pihak Singapura.

Namun, seperti dikutip Motorsport.com, Minggu (20/11/2016) Ecclestone mengatakan pernyataan tersebut dengan yakin, di mana Singapura tidak akan memperpanjang kesepakatan mengenai penyelenggaraan balap. Kabar ini hadir bersamaan dengan sebuah tanda tanya besar, mengenai nasib Grand Prix Brazil dan Jerman.

“Lihatlah apa yang telah kita lakukan untuk Singapura. Ya, Grand Prix memang telah memakan banyak biaya untuk Singapura, tapi kami juga telah memberi mereka banyak uang,” ujar Ecclestone.

“Singapura mendadak menjadi lebih dari sekedar sebuah bandara transit. Sekarang mereka percaya bahwa mereka telah mencapai tujuan mereka, dan mereka tidak ingin grand prix lagi,” sindir Ecclestone.

Berbicara tentang kontrak balap di beberapa sirkuit yang belum dikonfirmasi, Ecclestone menyampaikan, pihaknya terus melakukan pendekatan mengenai hal itu. Walaupun dirinya mengakui itu tidak mudah.

“Kami melakukan yang terbaik untuk tetap membuat Canada tetap pada jadwalnya. Di Brazil, kami mencoba hal yang sama, walaupun memang itu akan sulit, begitupun dengan di Hockenheim, Jerman, di mana kami belum bisa memberikan subsidi,” ucap Ecclestone.

Yamaha WR250R “Recall” di AS, Bagaimana Indonesia?

Sepeda Motor Sport 250 cc bergaya trail terdeteksi mengalami kecacatan produksi. Kondisi ini membuat Yamaha Amerika Serikat mengeluarkan pengumuman penarikan massal, untuk dilakukan perbaikan.

Melalui situs resmi National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA), model yang terkena adalah Yamaha WR250R, dengan nomor recall 16V8000. Jumlah unit diperkirakan mencapai 2.550 unit, yang diproduksi pada 1 Agustus 2013 sampai 1 Juni 2016.

Penarikan kembali ini dikarenakan ada kesalahan dalam proises perakitan, di mana clutch push lever seal pada WR250R yang retak. Ini memungkinkan oli untuk keluar dari mesin.

Jika itu terjadi maka akan membanjiri ban bagian belakang sepeda motor, dan bisa menyebabkan hilangnya kontrol, serta meningkatkan resiko kecelakaan.

Baca juga : Ini Mainan Baru Yamaha di Segmen Trail

Di Indonesia, Yamaha juga turut memasarkan model ini sejak 2015 lalu, didatangkan utuh (completely built up/CBU) dari Jepang. M Abidin, GM Service dan Motorsport, mengkonfirmasi, kalau Indonesia belum mendapat kabar akan recall tersebut.

“Di Indonesia kami belum ada instruksi tersebut. Kami juga belum menerima info nomor rangka dan mesinnya atau suspect lot number. Kami juga sedang menunggu perintah,” ujar Abidin kepada KompasOtomotif, Minggu (20/11/2016).

SUV Makin Dipilih Konsumen Indonesia

Meski belum berani memprediksi begitu jauh, Gabungan Industri Kendaraaan Bermotor Indonesia (Gaikindo), mengharapkan, penjualan tahun ini mencapai 1 juta unit sampai 1.050.000 unit. Dari beberapa segmen mobil yang tersaji, model sport utility vehicle yang saat ini cukup mencuri perhatian.

Pasar SUV khusunya di kategori low sport utility vehicle (LSUV) tampak semakin membesar. Dari total pasar, dibanding dengan tahun lalu, pada 2016 ini ada peningkatan sebesar 4,33 persen, periode Januari-Oktober 2016.

Melirik data wholesales Gabungan Industri Kendaraaan Bermotor Indonesia (Gaikindo), sepanjang sepuluh bulan ini, penjualan mencapai 100.261 unit, atau berkontribusi 11,46 persen dari keseluruhan. Sementara tahun lalu pada periode yang sama di angka 60.887 unit, menyumbang 7,13 persen.

Melihat pasar SUV tahun ini yang punya hasil manis, raksasa otomotif tanah air Toyota, memandang positif segmen mobil ini tahun depan. Lebih dari itu, pencapaian akan semakin baik jika banyak yang bermain di segmen ini, khususnya di kelas SUV entry.

“Kalau ditanya apakah market akan menuju ke sana, saya katakan iya. Memang kira-kira akan masuk ke sektornya SUV. Lebih lagi jika para produsen mulai bermain di segmen SUV entry, yang saat ini masih kosong. Dengan itu, pastinya SUV market akan berkembang,” ujar Fransiscus Soerjopranoto, Executive General Manager PT Toyota Astra Motor, di sela-sela diskusi Workshop Wartawan Industri dan Otomotif, di Ciawi, Bogor, Jumat (11/11/2016).

Tahun ini setidaknya ada tiga model SUV yang diluncurkan, seperti Honda BR-V, Chverolet Trax dan Suzuki SX4. Apakah tahun depan akan ada penambahan model baru, kita nantikan saja.